Logo

BANTU ANNA SEMBUH DARI HYDROCEPHALUS SEKARANG! Publish : 19 May 2021 - 13:27 WIB

Anna Mufida kini sudah menginjak 10 tahun. Tetapi Sunarto (45 Tahun) dan Samiyah (40 Tahun), -kedua orang tua Anna, masih mengingat bagaimana putri pertama mereka menunjukkan gejala hydrocephalus.

 

 "Dua minggu setelah kelahirannya. Anna mengeluarkan cairan dari mata meski tidak sedang menangis. Lalu saya bawa berobat ke dokter spesialis anak," kata Sunarto ketika ditemui di kediamannya di Desa Piji, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

 

Orang tuanya curiga sang anak mengalami iritasi mata yang disebabkan oleh debu vulkanik. Saat itu baru saja terjadi erupsi Gunung Merapi, debu vulkanik terbawa angin sampai ke wilayah yang mereka tinggali. Saat berobat ke dokter spesialis anak, Anna diberi obat untuk meredakan gejala sakitnya. 

 

Memasuki usia 4 bulan, Samiyah menyadari kepala sang anak mulai membesar.Puncaknya pada 4 Maret 2018, ia mengalami panas dan kejang, sehingga ia diharuskan opname di RSUD dr. Tjitrowardojo, Purworejo.

 

Dari pemeriksaan lanjut oleh dokter, Anna didiagnosa menderita hydrosephalus. Namun, karena kondisinya memerlukan penanganan lebih lanjut, dokter merujuknya ke RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. 

 

Dokter dari  RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta menyarankan untuk segera menjalani operasi. Namun urung dilakukan karena kondisi keuangan keluarga Anna yang tidak menentu. 

 

"Berhubung waktu itu saya nggak punya jaminan kesehatan, saya nggak bisa melanjutkan pengobatan anak saya karena biayanya mahal," kata Sunarto, raut wajahnya menunjukkan kesedihan namun berbalut ketegaran.

 

Keterbatasan biaya memang menjadi kendala pengobatan Anna. Sunarto, bekerja sebagai buruh tani, sementara Samiyah bekerja serabutan. Biaya pengobatan sang anak, termasuk akomodasi dan biaya transportasi, tidak terjangkau bagi mereka. Perkembangan kepala Anna terus terjadi. Ketika usianya 6 bulan, lingkar kepalanya mencapai 53 cm. Cairan serebrospinal yang tersumbat berkumpul pada bagian atas-tengah kepala.

 

"Karena belum terdaftar dalam jaminan kesehatan, jadi saya nggak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, Anna belum bisa berobat," sang ayah bercerita dengan sedu. Anna terpaksa dirawat di rumah.Tahun 2012, Relawan Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Anna. Saat itu, Sedekah Rombongan belum memiliki program pendampingan dhuafa sakit. Maka Sedekah Rombongan hanya menyampaikan bantuan yang digunakan untuk biaya berobat jalan.

 

Puncaknya, ketika usianya 8 Tahun, Anna mengalami demam tinggi yang disertai kejang. Anna kemudian dilarikan ke RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo, dan menjalani rawat inap selama beberapa hari. Karena kondisinya memerlukan penanganan medis lebih lanjut, dokter merujuknya ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

 

Lingkar kepalanya saat itu mencapai 68 cm, meski telat berobat, kedua orang tuanya tetap mengupayakan kesembuhan Anna. Saat ini, Anna sudah menjalani operasi pintas (shunting), rutin kontrol di poli anak, serta mengikuti terapi okupasi dan fisioterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Terapi tersebut bertujuan untuk melatih gerak motorik dan kekuatan tubuhnya. Harapannya, Anna bisa tumbuh sehat dan bisa berjalan.

 

Setiap berobat, Samiyah selalu mendampingi anak pertamanya itu,

"Awal pengobatan masih sering ditemani suami, terutama dulu sebelum dan sesudah operasi. Tapi sekarang saya sendiri," kata Samiyah. Keluarga ini harus berbagi peran, sementara Samiyah mengantar Anna, Sunarto bekerja serta menjaga rumah dan anak kedua mereka. Kemana pun, Samiyah selalu menggendong Anna. Meski tubuh Anna sekarang sudah cukup besar, tapi hal tersebut bukan penghalang bagi Samiyah.

 

Hydrosephalus tentu menghambat pertumbuhan dan perkembangan Anna. Sampai usianya 8 tahun, Anna hanya bisa berbaring di tempat tidurnya karena beban di kepalanya. Ia bahkan belum bisa membalikkan badan sendiri. Tangannya kaku, tulang kakinya mengecil. Setelah berobat, Anna mulai menunjukkan perkembangan. Anna mulai bisa membolak-balikkan badan saat berbaring, ia pun mulai belajar mengangkat kepalanya. Anna juga belajar duduk ketika lehernya sudah kuat menyangga kepalanya.

 

"Sebelumnya dia belum bisa duduk tegak, sekarang sudah bisa duduk tegak dalam waktu cukup lama. Sekarang mulai belajar merangkak, mulai belajar berjalan. Tangannya tidak kaku lagi, Anna bisa menyuapkan makannya sendiri ke mulutnya," kata Samiyah.

 

Meski memiliki kekurangan, Anna dikenal sebagai anak yang ceria, murah senyum. Sehari-harinya, saat kedua orang tuanya bekerja, Anna kerap ditinggal di rumah. Biasanya tiduran sambil menonton televisi, atau main-main sendiri. Anna memiliki adik yang usianya terpaut 2 tahun, namanya Taskiroh (8). Sang adik bersekolah tak jauh dari rumah mereka. Dari teras rumah, Anna menatap ke jalan, menunggu adiknya pulang sekolah. "Dek Iroh mana, Bu? Udah pulang sekolah belum? Itu tadi gurunya sudah lewat," celoteh Anna kepada Ibunya.

 

Harapan terbesar kedua orang tua Anna tentu saja kesembuhan Anna. Selain ikhtiar, kedua orang tuanya senantiasa membisikkan untaian doa supaya upaya-upaya yang mereka lakukan membuahkan hasil yang maksimal dan bermanfaat bagi Anna.

 

Oleh karena itu #Sedekaholics,mari ringankan beban Anna  dan dhuafa lainnya dengan menyisihkan sedikit rezeki kita untuk membantu pengobatan mereka  dengan cara: 

Klik “Donasi” Sekarang