

Hati ibu mana yang tidak hancur melihat putranya hanya bisa tergolek dan tak sadarkan diri selama berbulan-bulan..
Itulah yang dirasakan oleh Bu Fitriyani, ibunda dari Fandy Haufanhazza (6 tahun) asal Lampung Selatan. Sang bungsu dari dua bersaudara ini divonis mengidap tiga penyakit sekaligus yaitu epilepsi, radang selaput otak, dan gangguan koordinasi tubuh yang disebabkan oleh kelumpuhan otak.

Kondisi Fandy Saat Rawat Inap di Rumah Sakit
Sempat tak menyangka anaknya bisa sakit parah, awalnya Fandy tumbuh dengan baik seperti anak-anak lain. Hingga pada suatu saat ia menunjukkan gejala yang tak biasa. Tampak lesu, Fandy kelihatan seperti orang yang sangat mengantuk. Bu Fitriyani sering mendapati Fandi tiba-tiba terjatuh sendiri.
Merasakan ada keanehan, Fandy lalu dibawa berobat ke rumah sakit daerah. Setelah menjalani pemeriksaan, barulah diketahui bahwa Fandy mengidap epilepsi. Selang beberapa waktu, kondisi Fandy justru semakin menurun. Tubuhnya semakin kaku dan ia mulai kehilangan kesadaran.
Lima bulan berlalu, Fandy hanya berbaring seperti orang dalam keadaan koma, tanpa bisa melakukan aktivitas sama sekali. Untuk membedakan ketika ia tertidur atau terjaga dilihat dari kekakuan tangan dan kaki. Ketika terjaga, badannya akan kaku seperti kayu, dimana kaki dan tangan tidak bisa ditekuk. Dalam keadaan tidur, badannya akan lemas kembali.

Di Rumah, Fandy Hanya Bisa Terbaring
Semua kegiatan Fandy dilakukan di atas kasur. Ia hanya mendapat nutrisi dari susu yang dimasukkan melalui hidung menggunakan selang NGT. Untuk buang air, ia harus memakai popok. Kondisinya yang tak kunjung membaik membuatnya sering keluar masuk rumah sakit untuk rawat inap.
Otomatis biaya yang harus dikeluarkan Bu Fitriyani untuk kebutuhan pengobatan Fandy sangat banyak. Untuk susu dan popok saja dalam sebulan bisa lebih dari 2 juta rupiah. Belum lagi untuk membeli obat seharga 900 ribu rupiah yang harus ditebus tiap bulan karena tidak ditanggung oleh BPJS.
Keadaan semakin sulit karena ayah Fandy hanya seorang buruh potong kayu. Upah memotong kayu berkisar 70-100 ribu rupiah sehari, namun tidak tiap hari ada pekerjaan potong. Bahkan mereka harus rela menjual motor untuk bisa menyambung pengobatan Fandy ke ibukota Bandar Lampung.
Saat ini dokter sedang mengupayakan fisioterapi untuk meningkatkan kesadaran Fandy. Untuk dirujuk rawat inap ke Bandar Lampung, tingkat kesadarannya harus meningkat dari kondisinya sekarang.
Tiap hari Bu Fitriyani menyeka tubuh kecil anaknya sembari berdoa agar Fandy segera bangun dan tersenyum kembali. Berharap ada keajaiban untuk proses pengobatan anaknya..
Sedekaholic, mari kirimkan doa dan sisihkan sedikit rejeki untuk membantu pengobatan Fandy dengan cara :
Tak hanya mendoakan dan berdonasi, Sedekaholic juga dapat membagikan galangan dana ini agar lebih banyak orang membantu dhuafa sakit dalam menjemput kesembuhannya.
Terima kasih, Sedekaholic!
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengobatan Fandy dan pasien dampingan SR lain yang membutuhkan
![]()
Belum ada Fundraiser