Logo

PASIEN DHUAFA DI LOMBOK BUTUH RUMAH SINGGAH SEGERA Publish : 14 Oct 2021 - 13:50 WIB

Terkumpul
Rp 500.026
hari tersisa
23
Rp 100.000.000
0.5%

Pada tahun 2016, #SR mulai berderap di Nusa Tenggara Barat. Bergerak menyampaikan bantuan menyusuri perkebunan dan hutan menjadi hal biasa bagi kurir di daerah, tak terkecuali di Lombok. Luasnya NTB dengan akses yang belum memadai menjadi salah satu kendala dalam pergerakan. Wilayah NTB terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil dengan dua pulau besar yaitu pulau Lombok di bagian barat dan pulau Sumbawa di bagian timur, sedangkan pusat kotanya berada di Kota Mataram, Lombok. Bila ada pasien dampingan dari luar pulau utama yang dirujuk ke salah satu rumah sakit di Kota Mataram, pasien tersebut harus menggunakan kapal feri menempuh perjalanan 3-4 jam lamanya.

****

Rasanya ingin meneteskan air mata menyaksikan pasien-pasien dampingan #SR. Berbagai macam jenis sakit di derita oleh mereka mulai dari kanker, tumor, hidrocepalus, leukimia bahkan tak jarang ada yang menderita penyakit langka.

Susi Kurniawati (3 tahun) adalah salah satu pejuang kecil dari Lombok Timur. Sejak kecil, Susi didiagnosis dokter mengalami sakit Jantung. Membayangkan untuk mendapatkan pengobatan awalnya adalah hal yang dirasa mustahil bagi keluarga. Saat ini Susi dan keluarganya hanya tinggal di gubug pengungsian, tanpa memiliki rumah Susi harus berjuang melawan sakit Jantungnya.

Jarak dari tempat tinggalnya ke Rumah Sakit rujukan di Lombok pun memerlukan waktu 2,5 jam. Dan perjalanan ini, selalu ditempuh Susi dan keluarganya menggunakan kendaraan umum selama satu minggu sekali untuk melakukan pengobatan. Bapak Susi bekerja sebagai seorang nelayan, dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Sampai akhirnya orang tua Susi bertemu dengan Sedekah Rombongan Lombok dan mendapat bantuan untuk berobat.

 

 

Selain Susi, ada pejuang kecil kita Raudhatul (10 tahun) dari Lombok Timur yang mengalami sakit ginjal. Jarak dari rumah Raudhatul ke RS bisa mencapai 2,5 - 3 jam juga. Padahal hampir setiap bulan Raudhatul harus kembali ke RS untuk melakukan cuci darah dan suntik albumin dua minggu sekali. Selama ini, Raudhatul dan keluarganya selalu menggunakan ojek untuk transportasi ke rumah sakit.

 

Susi dan Raudhatul beserta pejuang kesembuhan lain di NTB yang berasal dari pelosok daerah sering merasa kebingungan ketika berobat. Jarak tempuh yang jauh dan lamanya waktu pemeriksaan di rumah sakit membuat mereka harus menetap cukup lama di Kota Mataram. Sebagian besar tidak memiliki sanak keluarga yang bisa disinggahi, ditambah lagi tidak adanya biaya untuk menyewa penginapan.

Dahulu ada rekan relawan #SR Lombok yang meminjamkan rumahnya sebagai tempat persinggahan pasien, namun saat ini sudah tidak ada lagi yang bisa meminjamkan. Akhirnya mau tidak mau pasien harus melakukan perjalanan pulang pergi ke rumah sakit atau menyewa penginapan. 

Keberadaan rumah singgah di Lombok merupakan harapan besar dari pasien dan relawan. Kehadiran rumah singgah pasti mereka butuhkan ketika menanti giliran kapan bisa kembali ke rumah sakit. Rumah Singgah ini akan menjadi tempat tinggal sementara bagi pasien yang memudahkan pasien menjalani pengobatan dan tindakan medis lainnya ke rumah sakit rujukan. Selain menyediakan tempat tinggal, rumah singgah juga harus menyediakan bahan makanan untuk mencukupi kebutuhan pasien dan keluarga yang mendampingi.

Tanpa adanya rumah singgah mereka tidak tahu harus menginap dimana..

Biaya sewa penginapan semalam di Kota Mataram sekitar Rp 150.000, ini sangat memberatkan pasien yang bahkan biaya berobat saja tidak punya. Beberapa pasien lain harus rela berangkat pulang pergi dari rumah ke rumah sakit, bahkan ada juga yang harus bolak balik selama 2 hari berturut-turut. Padahal perjalanan yang harus ditempuh antara 3-4 jam sekali jalan.

Kami sangat sedih karena belum bisa mewujudkan rumah singgah di Lombok..

Demi menghadirkan rumah singgah yang layak untuk mereka dibutuhkan biaya yang besar. Biaya tersebut diperlukan untuk sewa rumah, biaya listrik, biaya operasional, biaya kebutuhan pasien seperti : susu, pampers. obat-obatan, dan makanan sehari-hari, serta biaya perlengkapan rumah singgah seperti : peralatan sterilisasi, peralatan ganti verban (gv), kursi roda, tabung oksigen.

Biaya sewa harus dibayarkan untuk setahun penuh, ada juga pemilik sewa yang meminta pembayaran lunas untuk 2 tahun.

#Sedekaholic, mari ulurkan tanganmu untuk membantu pasien yang berjuang demi kesembuhannya melalui pengadaan Rumah Singgah Sedekah Rombongan Lombok dengan cara:

1. Klik tombol “DONASI” sekarang

2. Masukkan nominal donasi, tambahkan kode unik “026”, contoh : Rp 500.026

3. Pilih metode pembayaran GO-PAY, Jenius Pay, LinkAja, DANA, Mandiri Virtual Account, BCA Virtual Account, atau transfer Bank (transfer bank BNI, Mandiri, BCA, BRI, BNI Syariah, atau kartu kredit) dan transfer ke no. rekening yang tertera.

Terimakasih atas doa, dukungan dan bantuannya, semoga Tuhan membalas semua kebaikan teman-teman #Sedekaholic.

Disclaimer:

1.    Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk membiayai kebutuhan operasional seluruh Rumah Singgah Sedekah Rombongan termasuk Rumah Singgah Sedekah Rombongan yang terletak di Lombok, NTB.

2.    Informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor: 0812-9669-0808