Daeng Gani, umur 51 tahun beralamat di Komp. Pesantren Darul Istiqamah. Dg.Gani sosok manusia yang telah mencerminkan ketegaran yang indah, sosok manusia yang lahir menentang dunia dengan segala keterbatasan yang meleket padannya, baginya air mata bisa saja menetes menyentuh, membasahi pipi, asal jangan iman yang ternoda oleh nokta-nokta hitam.
pada tahun 1995 awal ujian itu menerpa, peglihatannya gelap, bahkan tak manpu menyaksikan indahnya mentari, semuanya gelap, air matapun tak tertahankan, tumpah dalam isak tangis. Ia membeyanngkan tentang masa depan yang cerah, ia juga punya mimpi yang nyata, namun semua itu hanya tinggal mimpi saat cita-citanya tenggelam bersama senja.
Perjalanan yang melelehkan untuk hidup ketika penglihatan hilang fungsi, akhirnya ia berobat pada dok. Spesialis mata, saraf, dan bahkan dukun pun menjadi saksi perjalanannya menjemput kata sembuh, zaman telah mencatat bait-bait perjalanan hidup dg.Gani sebagai cerminan manusia yang hidup bersama badai .
Waktu terus mengalir tiada henti, dan ujian itu belum selesai. Sosok manusia yang ia cintai memutuskan pergi meninggalkan dirinya dalam kesunyiaan, air matanya meleleh dalam sesal yang tinggi, dadanya sesak, namun ia punya Allah kekasih yang hakiki, ketika istri menjauh pergi.
Untaian kata manja nan manis dari lisan sang istri tertutup oleh tirai perpisahan yang sulit untuk diterima oleh hati, kecupan mesrah belum ia rasakan secarah utuh dan sempurnah, kata setia hanya melukis luka dalam lembaran usianya, tapi ia yakin allah punya rencana yang lebih indah dari cordoba atau taman indah persi.
Janji Allah terbukti “sesudah kesulitan ada kemudahan”. Tahun 2001 ia melangkahkan kakinya di Darul Istiqamah, satu lembaga da’wah, yang memberi inspirasi dahsyat buat Dg.Gani. di wajahnya mulai terlukis senyum yang mengembang, berlahan ia membuka lembaran sejarahnya yang baru, dan mulai melupakan peristiwa yang menngiris-iris hatinya. Air mata bahagia menetes bersama haru bahagia, menetes dari pelupuk mata yang tak mampu menyaksikan dunia secara utuh dan sempurnah.
Tahun 2005. Angka-angka itu menjadi saksi guratan senyum di langit bahagia buat Dg.Gani, istri yamg pergi mendapat ganti, tidak ada yang menyangka ketika takdir telah bercerita tetang bahagia yang tergambar saat itu.
Kini kebahagiaan itu ia lewati bersama sang istri yang ingin menerimanya bersama kekurangan yang ia kantongi. Dg.Gani sosok manusia luar biasa yang berdiri di antara kerikil tajam yang mencercah telapak kaki. Buta tak pernah ia hadirkan dalam hayalan, berpisah dengan sosok wanita yang mencintainya tidak pernah ia simpan dalam lamunan, tetapi itu semua telah tercatat rapi dalam suratan Ar Rahman.
Makanan yang sederhanah, tempat tinggal yang biasa-biasa saja, membuatnya tampak luar biasa, ia itulah Dg.Gani, DAENG yang menjadikan tongkat sebagai teman setia yang mengantarkannya mengitari tapak-tapak jalan yang ia lewati, tongkat jugalah yang menjadi saksi atas perjuangannya menuju rumah Allah, menuju sujud khusyu’ yang mendalam.
Dialah manusia yang tegar menentang zaman bersama sepotong kayu, dialah manusia yang menulis sejarahnya dengan tinta peradaban yang mulia.
Jumlah bantuan : Rp 1.000.000,-
Kurir: @areefy_dip
Tanggal 8 mei 2012

Daeng Gani mengalami kebutaan sejak tahun 1995
