Logo

BANTU RUMAH SINGGAH UNTUK DHUAFA SAKIT DI SEMARANG Publish : 23 Apr 2021 - 08:58 WIB

Pernahkah terbayangkan jika harus ke luar kota untuk berobat yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah, di mana di kota tersebut tak ada satupun sanak saudara, tak ada tempat untuk singgah, tak ada tempat untuk berteduh, padahal hampir setiap minggu selama berhari-hari harus berobat ke kota tersebut. Sedangkan, dana untuk menyewa penginapan pun tak ada.

Itulah yang dirasakan Ibu Tuti. Ibu Tuti  yang berasal dari Kabupaten Tegal setiap minggunya harus ke Semarang. Jarak Tegal ke Semarang sendiri sekitar 160 km, Hal ini ditempuh Bu Tuti untuk mengusahakan kesembuhan putra kesayangannya, Muh Abdul Ghofur.

Ghofur yang sekarang berusia 3 tahun didiagnosa dokter mengalami tumor Abdomen. Sekitar satu tahun yang lalu ketika Ibu Tuti merantau ke Jakarta Ghofur mengalami susah buang air besar sampai membuat perut Ghofur membesar. Melihat kondisi anaknya yang tidak baik-baik saja Ibu Tuti memilih untuk melepaskan pekerjaannya dan  kembali ke kampung halaman di Tegal.

Muh Abdul Ghofur

DI Tegal Ibu Tuti membawa Ghofur berobat di RS Soeselo. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan diketahui bahwa Ghofur menderita Tumor Abdomen. Dokter yang menangani Ghofur kemudian memberikan surat rujukan untuk berobat di RS Kariyadi Semarang karena keterbatasan fasilitas di RS Soeselo Tegal. 

Mendegar kabar seperti itu tentu membuat hati Ibu Tuti terkejut luar biasa. Putra semata wayangnya harus mengalami ujian berat di usia yang masih sangat belia. Ditambah harus berobat ke luar kota yang jaraknya sangat jauh, sedangkan kondisi ekonomipun sedang tidak baik-baik saja. Setelah Ibu Tuti memutuskan pulang ke Tegal hampir tidak ada lagi pemasukan yang didapatkan. Kebutuhan sehari-hari saja harus di topang oleh Nenek Ghofur.

Meski dengan berbagai keterbatasan Ibu Tuti tidak menyerah begitu saja. Dengan segenap doa dan usaha Ibu Tuti tetap membawa Ghofur berobat ke Semarang. Di Semarang Ghofur sempat menjalani pemeriksaan laboratorium, tapi karena kendala transportasi dan akomodasi pengobatan Ghofur harus terhenti.

Hal yang sama juga dialami Zahra Nur Aini, bocah 9 tahun yang tinggal Kabupaten Pati juga harus menempuh perjalan ratusan kilometer ke Semarang untuk berobat. Zahra mengalami kanker kulit sejak umur 3 tahun. Pada mulanya  ada bintik-bintik merah di wajah dan lehernya. Ketika Zahra berusia 5 tahun, bintik-bintik merah berubah menajdi benjolan kecil yang berwarna hitam, benjolan ini terasa gatal sekali dan menyebar kemana-mana. Pernah ada momen di mana Zahra tak punya teman, bahkan cenderung dikucilkan.

 Zahra Nur Aini

Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan orang tua disamping Zahra karena ayahnya sudah meninggal dan ibunya menikah dengan pria lain. Zahra kini diasuh oleh kakek dan neneknya. Demi untuk menyembuhkan Zahra, kakeknya pun harus membuka jasa tambal ban diusianya yang sudah lanjut. Ketika datang jadwal Zahra untuk berobat, Kakek Zahra menutup sumber penghasilannya dan menemani Zahra untuk ke Semarang. Sedangkan untuk ke Semarang mereka membutuhkan biaya transportasi dan akomodasi yang tidak sedikit.

Dimas Aditya Haydar

Kisah Dimas Aditya Haydar  yang  berasal dari Jepara tak berbeda dengan Ghofur dan Zahra. Dimas sejak lahir sudah di diagnosa dokter dengan penyakit Edward Syndrom yang merupakan penyakit kelainan hormon. Organ dalam Dimas berkembang  tidak sempurna mulai dari mata distrifi kornea, jantung bocor, gangguan pada pernafasan, epilepsi, dan kelainan pada alat kelamin hormon teroit dan hormon hipoteroit. Demi menempuh pengobatan DImas harus menmpuh jarak ratusan kilomeer dari Jepara ke Semarang.  Tak jarang karena hal tersebut kondisi tubuh DImas langsung drop dan  mengalami kejang. 

Ghofur, Zahra dan Dimas  hanyalah potret kecil saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan untuk menggapai kesembuhan. Kehadiran rumah singgah sangat mereka butuhkan ketika menanti giliran kapan bisa kembali ke rumah sakit  dan mendapat pengobatan selanjutnya. Tanpa adanya rumah singgah mereka terpaksa menginap di lorong-lorong rumah sakit.

Demi menghadirkan rumah singgah yang layak untuk mereka dibutuhkan biaya yang besar. Biaya tersebut diperlukan untuk sewa rumah. Belum lagi biaya listrik, biaya operasional, biaya kebutuhan medis dan sembako, serta biaya perlengkapan rumah singgah. 

Salah satu Rumah Singgah berada di Kota Semarang. Mereka yang membutuhkan rumah singgah di Semarang berasal dari : Purbalingga, Purwokerto, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, batang, Kendal, Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora dan sekitarnya

Sedekaholics, mari ulurkan tanganmu untuk kesembuhan dhuafa sakit yang berjuang demi kesembuhanya di Semarang dan sekitarnya

 Klik tombol 'Donasi' Sekarang.

Terimakasih atas doa, dukungan dan bantuannya, semoga Tuhan membalas semua kebaikan teman-teman #Sedekaholics.

 

-------

Disclaimer:

1.    Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk membiayai kebutuhan operasional seluruh Rumah Singgah Sedekah Rombongan termasuk Rumah Singgah Sedekah Rombongan yang terletak di Semarang, Jawa Tengah.

2.    Bagi yang ingin melihat langsung, silahkan berkunjung ke: Jl. Kintelan Baru No 6, RT.06/02,Bendungan, Gajah Mungkur, Kota  Semarang

3.    Informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor: +62812-9669-0808